Nama : Milda
Nim : 11901035
Kelas : PAI 4E
Mata
Kuliah : Magang 1
Laporan Bacaan Tentang Kultur Sekolah
Berdasarkan dari bacaan yang saya baca pada sebuah Jurnal Pemikiran
Sosiologi Volume 2 No. 1, 2013 Kultur Sekolah oleh Ariefa Efianingrum atau sumber
linknya (https://jurnal.ugm.ac.id/jps/article/view/23404/pdf). Pada jurnal ini membahas tentang Pengertian Kultur Sekolah, Implikasi
Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah, Aneka dan Praktik Pengembangan Kultur
Sekolah.
Pengertian Kultur Sekolah dapat saya simpulkan yaitu Budaya sekolah
merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara,
simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Budaya sekolah juga merupakan
cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka
bekerja. Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks,
yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan
administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Dalam
perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk
merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif,
dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Budaya sekolah juga
meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat
misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda lahiriyah
nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya
positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi,
karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.
Dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan
manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan
menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi
tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu
masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada
anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan
melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam
13 bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang
dibuat oleh manusia). Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah.
Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman
yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah.
Jadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas
internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh
seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks
persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur
organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas
kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan
nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk
bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar
dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah. Kultur
sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai
dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini
sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan
konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan
positif.
Menurut para ahli yaitu Menurut Peterson (2002), budaya sekolah
dapat mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu memahami
dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf
dan belajar siswa. Sedangkan menurut Willard Waller (Deal & Peterson,
2011), sekolah memiliki budaya yang pasti tentang diri mereka sendiri. Di sekolah,
ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat
istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka.
Orangtua, guru, kepala sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang
istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, tentang sekolah mereka, tentang
sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan
aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam
diskusidiskusi tentang upaya perbaikan sekolah. Sekolah berperan dalam
menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu harus
selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum.
Selain itu dalam kultur atau kebudayaan sekolah memiliki unsur
penting mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material,
yaitu:
1.
Nilai-nilai
moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.
2.
Pribadi-pribadi
yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching
specialist, dan tenaga administrasi.
3.
Kurikulum
sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan
program pendidikan.
4.
Letak,
lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan
perlengkapan lainnya.
Kemudian implikasi kultur sekolah dalam perbaikan sekolah juga
menjadi peranan penting dalam menunjukkan betapa berpengaruhnya kultur sekolah
terhadap berjalannya fungsi sekolah. Dalam kultur sekolah terdapat aspek-aspek kultur
sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah, yaitu sebagai berikut :
a.
Visi
dan Nilai (Vision and Values)
Visi
merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan
terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Sedangkan nilai terdapat dua
kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik
merupakan nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi, misalnya:
nilai patriotisme. Sedangkan nilai instrumental merupakan nilai yang didukung
karena menguntungkan, misalnya produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai
dalam budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna
norma-norma yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan
semangat dan vitalitas untuk perbaikan sekolah.
b.
Upacara
dan Perayaan (Ritual and Ceremony)
Upacara,
tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang
relevan dengan budaya. Dalam upacara dan perayaan yang berlangsung biasanya perangkat
sekolah baik itu mulai dari siswa-siswi, para guru, kepala sekolah dan anggota
komite sekolah saling berinteraksi untuk menjalin kerjasama yang baik demi
kemajuan sekolah. Jadi dalam kegiatan atau acara ini dapat meningkatkanvisi
dan semangat (spirit) sekolah untuk
perbaikan sekolah.
c.
Sejarah
dan Cerita (History and Stories)
Sejarah
merupakan suatu hal yang sangat melekat akan budaya sehingga tidak dapat
dipungkiri bahwa dengan adanya sejarah dapat meningkatkan perbaikan sekolah.
d.
Arsitektur
dan Artefak (Architecture and Artifacts)
Sekolah
pasti mempunyai simbol yang sangat khas yaitu seperti seragam sekolah, motto,
logo, arsitektur, lagu (mars/hymne), kata-kata motivasi dan tindakan yang
mencerminkan visi dan misi sekolah. Hal ini yang menjadi ciri-ciri yang
menonjol dan merupakan aspek-aspek dari bagian kultur sekolah. Dengan adanya
arsitektur atau simbol dari sekolah inilah yang membuat sekolah dikenal dengan
cara yang berbeda.
Selain pengertian kultur sekolah dan implikasi kultur sekolah dalam
perbaikan sekolah tentunya ada tindakan atau praktik pengembangan kultur sekolah
untuk kemajuan sekolah tersebut. Pengembangan kutur sekolah dapat dilakukan
melalui berbagai macam tindakan yaitu sebagai berikut :
1.
Melalui
Prestasi Akademik
Tak asing
lagi bagi kita apalagi sebagai calon pendidik bahwa prestasi akademik merupakan
suatu peningkatan perkembangan belajar peserta didik dalam proses pembelajaran
yang sangat dihargai oleh sekolah. Prestasi akademik yang didapatkan oleh
peserta didik merupakan suatu hal yang sangat membanggakan bagi pendidik,
karena telah berhasil mendidik siswa-siswinya berkembang dengan signifikan
dengan menoreh sebuah prestasi sekolah baik itu prestasi dalam mata pelajaran, juara
kelas maupun juara tingkat sekolah dan menjadi suatu kebanggaan bagi kedua
orang tua. Prestasi akademik sangat menunjang pengembangan kultur sekolah,
karena tujuan dari sekolah ialah mencerdaskan anak bangsa tanpa diskriminasi.
2.
Melalui
Prestasi Non-Akademik
Selain
melalui prestasi akademik, dalam kultur sekolah prestasi yang menunjang
siswa-siswinya untuk berkembang ialah melalu prestasi non-akademik yang dapat
diasah secara maksimal melalui bakat dan minat peserta didik. Prestasi non-akademik
dapat dikembangkan melalui seni, olahraga, organisasi-organisasi sekolah dan
lainnya yang merupakan bagian dari kultur sekolah. Kegiatan dalam mengembangkan
bakat dan minat ini sering disebut dengan kegiatan ekstrakurikuler.
Dalam
kegiatan ekstrakurikuer ini peserta didik diberikan ruang untuk mengembangkan
potensi atau kemampuan setiap peserta didik sesuai minatnya tanpa ada unsur paksaan.
Sehingga dengan begitu peserta didik merasa nyaman dan maksimal dalam mengasah
potensi mereka sehingga dapat bersaing dengan siswa-siswi yang berasal dari
sekolah lain untuk menunjukkan kemampuan atau potensi mereka dengan bersaing
secara sehat sehingga mendapat predikat siswa-siswi berprestasi non-akademik.
Prestasi
non-akademik selain memberikan ruang atau kesempatan bagi peserta didik untuk
mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang dimilikinya juga sebagai bentuk
dalam kemajuan sekolah.
3.
Melalui
Karakter
Karakter
peserta didik merupakan suatu bagian terpenting yang harus diperhatikan oleh sekolah
terutama para pendidik. Karakter menjadi bagian terpenting dalam menentukan
keberhasilan peserta didik kedepannya. Karakter mencakup sikap dan moral
peserta didik. Apabila peserta didik memiliki karakter yang bagus maka karakter
tersebut akan menjadi kebiasaan peserta didik ketika berinteraksi atau bergaul
dengan masyarakat ataupun lingkungan sekitarnya. Begitu pula sebaliknya, jika
peserta didik memiliki karakter yang buruk disekolah, maka karater tersebut
akan menjadi kebiasaan yang buruk pula ketika peserta didik sudah berada
dilingkungan sekitarnya.
Maka
dari itu karakter menjadi perhatian yang cukup besar bagi sekolah dalam
pengembangan kultur sekolah agar setiap peserta didik memiliki karakter yang
bagus, baik itu dari sikap dan moralnya agar dapat mencontohkan kepada
lingkungan sekitarnya bahwa mereka merupakan orang yang berpendidikan sehingga
terhindar dari hal-hal yang dapat menjerumuskannya kedalam hal yang buruk.
4.
Melalui
Kelestarian Lingkungan Hidup
Dengan
budaya sekolah seperti kegiatan meningkatkan kelestarian hidup ini, peserta
didik diajarkan bagaimana menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan baik dan
benar. Sehingga peserta didik memiliki kesadaran betapa pentingnya menjaga
kelestarian lingkungan hidup dengan menjelaskan bahaya jika tidak menjaga
kelestarian lingkungan hidup yang dapat merugikan semua makhluk hidup. Dengan memberikan
contoh jika membuang sampah sembarangan, maka akibat dari membuang sampah
secara sembarangan dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti diare, demam
berdarah dan lainnya. Karena tumpukan sampah menjadi sarang bagi lalat dan
nyamuk sehingga dapat menimbulkan berabagai penyakit.
Selain
terhindar dari berbagai penyakit jika menjaga kelestarian lingkungan hidup,
sekolah juga dapat penghargaan jika sekolah tersebut bersih, asri dan nyaman
dengan predikat sekolah adiwiyata. yaitu
sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam
menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian,
predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa diupayakan
melalui pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan. Untuk mewujudkannya,
memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur
sekolah yang ramah lingkungan.