Sabtu, 17 April 2021

Laporan Bacaan Tentang Manajemen Sekolah

 

Nama              : Milda

Nim                 : 11901035

Kelas               : PAI 4E        

Mata Kuliah  : Magang 1

 

Laporan Bacaan Tentang Manajemen Sekolah

Setelah saya membaca sebuah jurnal yang berkaitan dengan administrasi sekolah salah satunya yaitu tentang manajemen sekolah, jurnal tersebut berjudul “Manajemen Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Pada Sdn Dayah Guci Kabupaten Pidie oleh Muhammad Nur, Cut Zahri Harun, dan Sakdiah Ibrahim. Volume 4, No. 1, Februari 2016”.(https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://media.neliti.com/media/publications/93694IDmanajemensekolahdalammeningkatkanmut.pdf&ved=2ahUKEwjWu8Q1IbwAhXBe30KHaWGBn8QFjAAegQIBBAC&usg=AOvVaw09DC6UOCtZIWyzdecFReTo).

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan bangsa. Mengapa demikian ? karena tujuan dari pendidikan ialah sebagai upaya mencerdaskana kehidupan bangsa, mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan. Nah, di dalam sebuah pendidikan tersebut tentunya memiliki komponen-komponen seperti administrasi, manajemen, sistem pendidikan dan lainnya.

Pada laporan bacaan kali ini saya akan membahas tentang manajemen sekolah, yang merupakan bagian yang penting dan berpengaruh terhadap berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. Untuk poin pertama membahas tentang konsep manajemen sekolah. Kedua, tentang fungsi manajemen sekolah. Ketiga, gerapan manajemen sekolah. Keempat, peranan kepala sekolah dalam manajemen, dan terakhir kelima membahas tentang mutu pendidikan.

1.      Konsep Manajemen Sekolah

                Manajemen merupakan serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, mengembangkan segala upaya di dalam mengatur dan mendayagunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, untuk mencapai tujuan organisasi, secara efisien dan efektif (Wahjosumidjo, 2000: 117). Menurut Scanlan dan Key, manajemen merupakan proses pengoordinasian dan pengintegrasian semua sumber, baik manusia, fasilitas, maupun sumber daya teknikal lain untuk mencapai tujuan khusus yang ditetapkan (Danim, 2007: 32). Manajemen dalam arti luas adalah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Sementara itu, manajemen sekolah adalah proses dan instansi yang memimpin dan membimbing penyelenggaraan pekerjaan sekolah sebagai suatu organisasi dalam mewujudkan tujuan pendidikan dan tujuan sekolah (Sagala, 2007:55).  Sedangkan, manajemen dalam arti sempit adalah manajemen  sekolah atau madrasah meliputi : perencanaan program sekolah/madrasah, pelaksanaan program sekolah atau madrasah,  kepemimpinan kepala sekolah atau madrasah, pengawas atau evaluasi dan sistem informasi sekolah atau madrasah. Jadi untuk menentukan keberhasilan suatu pendidikan juga dilandasi dengan  manajemen sekolah yang baik dan sistematis sesuai dengan yang sudah direncanakan sejak awal.  Manajemen sekolah bukan merupakan terminologi baru dalam dunia akademik kependidikan. Sebagai substansi tugas, manajemen sekolah telah ada sejak lembaga persekolahan ada. Substansi prosesnya yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan telah dikembangkan sejalan dengan berjalannya substansi tugas (manajemen akademik, manajemen keuangan, manajemen ketatalaksanaan sekolah, manajemen kemuridan, manajemen bangunan dan perlengkapan sekolah, manajemen pelayanan khusus, manajemen kehumasan, manajemen perpustakaan) meskipun belum bersistem (Danim, 2007: 33)

                Oleh karena itu sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus mampu mengembangkan seluruh kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh peserta didik dan kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (tingkah laku). Dapat disimpulkan bahwa manajemen sekolah merupakan proses mengelola sekolah melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sekolah agar mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Selain itu, kepala sekolah sebagai  manajer sekolah menempati posisi yang telah ditentukan di dalam organisasi sekolah. Salah satu perioritas kepala sekolah dalam manajemen sekolah ialah manajemen pembelajaran.

2.      Fungsi Manajemen Sekolah

                Fungsi manajemen sekolah adalah mengoptimalkan kemampuan menyusun rencana sekolah dan rencana anggaran. Sekolah dikelola berdasarkan rencana sekolah dan rencana anggaran. Masyarakat juga didorong untuk berpartisipasi mengelola sekolah. Berikut diuraikan fungsi-fungsi pengelolaan sekolah yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengoordinasian, pengarahan, dan pengawasan dalam konteks kegiatan satuan pendidikan.

                Secara umum ada empat fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing) dan fungsi pengendalian (controlling). Untuk fungsi pengorganisasian terdapat pula fungsi staffing (pembentukan staf). Dalam proses manajemen terlibat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang pimpinan, menurut Yamin dan Maisah (2009:2), yaitu “perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).

a.       Fungsi Perencanaan

          Perencanaan sekolah adalah proses menentukan sasaran alat, tuntutan-tuntutan, taksiran, pos-pos tujuan, pedoman, dan kesepakatan yang menghasilkan program-program sekolah yang terus berkembang (Sagala, 2007: 58).

b.      Fungsi Pengorganisasian

          Pengorganisasian sekolah merupakan kemampuan kepala sekolah bersama guru, tenaga kependidikan, dan personel lainnya di sekolah dalam melakukan semua kegiatan manajerial untuk mewujudkan hasil yang direncanakan dengan menentukan hasil yang direncanakan dengan menentukan sasaran, menentukan struktur tugas, wewenang dan tanggung jawab (Sagala, 2007: 60). Fattah (2006: 71) mengartikan pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi.

c.       Fungsi Penggerakan (Actuating)

          Berdasarkan seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen. Fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi. Menggerakkan (Actuating) menurut Terry berarti merangsang anggota-anggota kelompok melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dan kemauan yang baik. Menggerakkan dalam organisasi sekolah adalah merangsang guru dan personel sekolah lainnya melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dan kemauan yang baik untuk mencapai tujuan dengan penuh semangat (Sagala, 2007: 60).

d.      Fungsi Pengkoordinasian

          Pengkoordinasian dalam organisasi sekolah adalah mempersatukan rangkaian aktifitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah dengan menghubungkan, manyatupadukan, dan menyelaraskan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan personel lainnya sehingga berlangsung secara tertib ke arah tercapainya maksud yang telah ditetapkan (Sagala, 2007: 62). Usaha pengkoordinasian dapat dilakukan malalui berbagai cara, antara lain dengan melaksanakan penjelasan singkat, mengadakan rapat kerja, memberikan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis serta memberikan balikan tentang hasil kegiatan (Suryosubroto, 2004: 24)

3.      Garapan Manajemen Sekolah

                Manajemen pendidikan adalah bagian dari proses manajemen sekolah, karena merujuk pada penataan sumber daya manusia, kurikulum, fasilitas, sumber belajar dan dana serta upaya mendapai tujuan lembaga sekolah secara dinamis. Manajemen pendidikan merupakan suatu sistem pengelolaan dan penataan sumber daya pendidikan, seperti tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, kurikulum, danan (keuangan), sarana dan prasarana pendidikan, tata laksana dan lingkungan pendidikan. Soepardi (Mulyasa, 2011:11) mengungkapkan bahwa “Garapan manajemen pendidikan meliputi bidang; organisasi kurikulum, perlengkapan pendidikan, media pendidikan, personil pendidikan, hubungan kemanusiaan, dan dana finansial atau keuangan”.

4.      Peranan Kepala Sekolah dalam Manajemen

                Kepala sekolah merupakan jabatan karir yang diperoleh seseoarng setelah sekian lama menjabat sebagai guru. Seseorang diangkat dan dipercaya menduduki jabatan kepala sekolah harus memenuhi kriteriakriteria yang disyaratkan untuk jabatan dimaksud. Wahjosumidjo (2011:83) menjelaskan “secara sederhana kepala sekoah dapat didefinisikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin suatu lembaga atau sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran”.

                 Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah. Sesuai dengan ciri-ciri sekolah sebagai organisasi yang bersifat kompleks dan unik, peran kepala sekolah seharusnya dilihat dari berbagai sudut pandang. Pada umumnya kepala sekolah memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin di bidang pengajaran, pengembangan kurikulum, administrasi kesiswaan dan personalia staf, hubungan masyarakat, administrasi school plant, dan perlengkapan serta organisasi sekolah. Kepala sekolah berkewajiban menciptakan hubungan yang sebaik-baiknya dengan para guru, staf, dan siswa, sebab esensi kepemimpinan adalah kepengikutan. Ada tiga macam peranan pemimpin dilihat dari otoritas dan status formal seorang pemimpin. Dalam melaksanakan fungsinya, kinerja seorang kepala sekolah sering dirumuskan sebagai EMASLIM. Singkatan dari Educator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Innovator, dan Motivator.

                Maka dari itu kepala sekolah sangat berperan penting dan berpengaruh dalam berlangsungnya manajemen sekolah, karena kepala sekolah yang mempimpin apakah manajemen sekolah berjalan dengan maksimal atau tidak.

5.      Mutu Pendidikan

                Mutu berkaitan dengan baik buruknya suatu benda, kadar atau derajat. Mutu pendidikan yang diinginkan tidak terjadi begitu saja, tetapi mutu perlu direncanakan. Perencanaan yang matang merupakan salah satu bagian dalam upaya meningkatkan mutu. Depdiknas (Mulyasa, 2013:157), Secara umum “mutu diartikan sebagai gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam membuaskan kebutuhan yang diharapkan atau tersirat. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses dan output pendidikan”.

                Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Input sumber daya meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah, guru termasuk guru BP, karyawan, siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang, bahan dan sebagainya). Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. Output pendidikan adalah merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/ perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efesiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moral kerjanya.

                Proses pendidikan yang bermutu apabila seluruh komponen pendidikan terlibat dalam proses pendidikan itu sendiri. Kamisa (Karwati dan Priansa, 2013:15) menyebutkan “mutu yang dimaksud dalam perspektif pendidikan adalah mutu dalam konsep relatif, terutama berhubungan dengan kepuasan pelanggan. Pelanggan pendidikan ada dua, yaitu pelanggan internal dan eksternal”. Pendidikan bermutu apabila pelanggan internal (kepala sekolah, guru dan karyawan sekolah) berkembang, baik fisik maupun psikis, sedangkan pelanggan eksternal, yaitu: (1) eksternal primer (peserta didik), (2) eksternal skunder (orang tua, pemimpin pemerintah dan perusahaan), dan (3) eksternal tersier (pasar kerja dan masyarakat luas).  Nah maka dari itu untuk menciptakan sekolah yang bermutu peran semua anggota sekolah baik itu guru, peserta didik, orangtua pendidik dan komite sekolah lainnya harus saling bekerja sama untuk meningkatkan mutu pendidikan yang baik agar proses belajar yang sedang berlangsung akan berjalan dengan lancar karena adanya kesadaran dari berbagai pihak yang mendukung untuk peningkatan mutu pendidikan yang lebih baik lagi.

 

 

 

 

Laporan Bacaan Tentang Kultur Sekolah, Aktivitas Siswa dan Pembelajaran.

  Nama                           : Milda Nim                              : 11901035 Kelas                            : PAI 4E          ...