Sabtu, 24 April 2021

Laporan Bacaan Tentang Manajemen Kelas

 

Nama              : Milda

Nim                 : 11901035

Kelas               : PAI 4E        

Mata Kuliah  : Magang 1

 

Laporan Bacaan Tentang Manajemen Kelas

Pendidikan merupakan salah satu usaha meningkatkan kualitas hidup manusia melalui pengembangan potensi yang mereka miliki. Oleh karena itu, Pendidikan memerlukan manajemen. Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan usaha anggota-onggota organisasi serta pendayagunaan seluruh sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Salah satu ruang lingkup manajemen pendidikan yang perlu di kelola adalah kelas karena ditempat itulah terciptanya proses pembelajaran. Pembelajaran yang efektif disebabkan strategi pembelajaran yang bagus, kesiapan sarana dan prasaran, suasana kelas yang aman, nyaman, dan interaksi sosial yang bagus.

Manajemen kelas adalah usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha tersebut mengarah pada penyiapan bahan belajar, sarana prasarana pembelajaran, pengaturan ruang belajar, yang diarahkan untuk mewujudkan suasan pembelajaran yang efektif. Dari sumber bacaan yang saya baca yaitu pada sebuah jurnal yang berjudul “Jurnal Manajemen Pendidikan Islam : Manajemen Kelas yang Efektif Oleh Astuti, Vol. 9, No. 2. 2019” atau linknya https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://core.ac.uk/download/pdf/228816301.pdf&ved=2ahUKEwiUuanNr5jwAhWSf30KHenRDYsQFjABegQIERAC&usg=AOvVaw3djakt4cXCZZjCVJFLSp0g. Dapat saya temukan beberapa kesimpulan mengenai manajemen kelas yaitu mulai dari konsep manajemen kelas yang meliputi : pengertian manajemen kelas, tujuan manajemen kelas, prinsip-prinsip manajemen kelas dan pendekatan dalam manajemen kelas. Kemudian konsep modern manajemen kelas. Nah, dari semua poin-poin yang sudah saya sebutkan langkah berikutnya yaitu pemaparan konsep manajemen kelas dan konsep modern manajemen kelas, sebagai berikut :

1.      Pengertian Manajemen Kelas

Manajemen kelas berasal dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Manajemen berasal dari kata bahasa Inggris yaitu management, yang diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sementara yang dimaksud kelas secara umum diartikan sebagai sebagai sekelompok peserta didik yang ada pada waktu yang sama menerima pembelajaran yang sama dari pendidik yang sama. Sebagian pengamat yang lain mengartikan kelas menjadi dua pemaknaan, yaitu: Pertama, kelas dalam arti sempit, yaitu berupa ruangan khusus, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam hal ini mengandung sifat-sifat statis, karena sekedar menunjuk pada adanya pengelompokan siswa berdasarkan batas umur kronologis masing-masing. Kedua, kelas dalam arti luas, yaitu suatu masyarakat kecil yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara kreatif untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik dengan baik.

Menurut Sudarman Danim, manajemen kelas dapat didefinisikan sebagai berikut; a) Manajemen kelas adalah seni atau praktis (praktik dan strategi) kerja, b) Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh pendidik, baik individual maupun dengan atau melalui orang lain (semisal dengan sejawat atau peserta didik) untuk mengoptimalkan proses pembelajaran, dan c) Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan yang dilakukan oleh pendidik, baik individual maupun dengan atau melalui orang lain (semisal sejawat atau peserta didik) untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien, dengan cara memanfaatkan segala sumber daya yang ada.

Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk mewujudkan manajemen kelas yang efektif harus sesuai dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta memanfaatkan sumber daya secara optimal.

2.      Tujuan Manajemen Kelas

Manajemen kelas pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Selain itu, manajemen kelas juga bertujuan untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman untuk tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Dengan demikian, proses tersebut akan dapat berjalan dengan efektif dan terarah, sehingga cita-cita pendidikan dapat tercapai demi terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas.

Sedangkan tujuan manajemen kelas menurut Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen adalah sebagai berikut: a) Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, b) Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terjadinya interaksi pembelajaran, dan c) Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individualnya.

Apabila tujuan dari manajemen kelas sudah tercapai, maka ada dua kemungkinan yang akan dialami oleh siswa sebagai indikator keberhasilan dari manajemen tersebut, yaitu: Sebuah manajemen kelas dapat dikatakan berhasil apabila sesudah itu setiap siswa mampu untuk terus belajar dan bekerja, kemudian sebuah manajemen kelas juga dapat dikatakan berhasil apabila setiap siswa mampu untuk terus melakukan pekerjaan tanpa membuang-buang waktu dengan percuma.

3.      Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas

Agar manajemen kelas dapat diterapkan dengan baik, penting bagi para guru untuk dapat memahami beberapa prinsip dasar tentang manajemen kelas. Prinsip-prinsip dasar ini sangat dibutuhkan guna memperkecil timbulnya masalah atau gangguan dalam mengelola atau memanajemen kelas. Beberapa prinsip manajemen kelas tersebut, antara lain sebagai berikut:

a.       Guru Harus Hangat dan Antusias

Untuk dapat memiliki sikap yang hangat kepada siswa guru dapat melakukan hal-hal berikut: Bertanyalah tentang kabar siswa-siswi sebelum memulai pelajaran, sediakan waktu dan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan persoalan-persoalan yang mereka hadapi, berdoalah untuk mereka. Sedangkan untuk dapat memiliki sikap antusias kepada siswa, maka ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, yaitu: Tidak pelit memberikan pujian kepada siswa, selalu berusaha untuk membantu siswa, sering melakukan Sharing pendapat dengan siswa dan menghargai setiap pendapat siswa.

b.      Guru Harus Mampu Memberikan Tantangan

Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh guru dalam memberikan tantangan, yaitu: a) Lakukan evaluasi sederhana secara berkala setiap minggu, selingi dengan kuis, kaitkan dengan dunia luar, dan menggunakan metode yang variatif.

c.       Guru Harus Mampu bersikap Luwes

Setiap guru harus mampu bersikap luwes kepada siswanya. Artinya, di dalam kelas seorang guru tidak harus memosisikan diri sebagai orang yang serba tahu. Untuk mewujudkan hal tersebut, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh seorang guru, yaitu: Memperlakukan siswa layaknya saudara/anak sendiri, sesekali panggil siswa dengan panggilan “nak”, dan sering menghabiskan waktu bersama siswa.

d.      Beri Penekanan pada Hal Positif

Hal-hal yang perlu dilakukan guru untuk dapat menumbuhkan sikap seperti ini antara lain: Jangan mencela siswa yang berbuat negatif di dalam kelas, selalu ingatkan mereka terhadap tujuan dan cita-cita belajarnya, serta kemukakan apa saja hal-hal yang dapat merusak cita-cita itu, dan berilah pujian jika ada siswa yang sudah melakukan tindakan-tindakan positif.

e.       Penanaman Disiplin Diri

Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah bagaimana agar anak didik dapat mengembangkan sikap disiplin dengan baik. Begitu pula halnya dengan guru. untuk mewujudkan tujuan itu, tentu saja guru harus memberikan teladan yang sesuai.

4.      Pendekatan dalam Manajemen Kelas

Berikut ini beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam manajemen kelas, yaitu :

a.       Pendekatan Kekuasaan : Pendekatan kekuasaan disini memiliki pengertian sebagai sikap konsistensi dari seorang guru untuk menjadikan norma atau aturan-aturan dalam kelas sebagai acuan untuk menegakkan kedisiplinan. Dalam proses itu, peranan guru adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas, sehingga suasana belajar mengajar dapat berlangsung dengan efektif.

b.      Pendekatan Ancaman : Ancaman juga dapat dijadikan pendekatan yang perlu dilakukan guru untuk memanage kelas yang baik. Namun, ancaman disini sepatutnya tidak dilakukan sesering mungkin dan hanya diterapkan manakala kondisi sudah benar-benar tidak dapat dikendalikan. Selama guru masih mampu melakukan pendekatan lain di luar ancaman, maka akan lebih baik jika pendekatan dengan ancaman ini ditangguhkan.

c.       Pendekatan Resep : Pendekatan resep sangat cocok dilakukan oleh guru sendiri. Dalam hal ini, kita perlu mencatat beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama mengajar di kelas. Ketentuan itu dibuat tidak semata-mata untuk kepentingan guru, melainkan juga untuk kepentingan pengaturan kelas.

d.      Pendekatan Kebebasan : Pendekatan ini juga perlu dilakukan oleh guru untuk dapat memanajemen kelas dengan baik adalah dengan melakukan pendekatan kebebasan.

e.       Pendekatan Pengajaran : Kemampuan guru dalam membuat perencanaan pengajaran sekaligus mengimplementasikannya dalam kelas, merupakan pendekatan yang sangat efektif untuk dapat mengelola kelas yang baik. Karena itu, buatlah perencanaan pengajaran yang matang sebelum kita masuk kelas dan patuhilah tahapan-tahapan yang sudah kita buat sebelumnya.

f.       Pendekatan Perubahan Tingkah Laku : Sebagaimana prinsipnya, pengelolaan kelas dilakukan sebagai upaya untuk mengubah tingkah laku siswa di dalam kelas dari kurang baik menjadi baik. Oleh sebab itu, kita harus mampu melakukan pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku agar tujuan pengelolaan kelas dapat tercapai dengan baik.

g.      Pendekatan Sosio-Emosional : Sebuah kelas dapat dikelola secara efisien selama guru mampu membina hubungan yang baik dengan siswa-siswanya. Pendekatan yang berdasarkan kepada terjalinnya hubungan yang baik antara guru dan siswa ini disebut dengan pendekatan sosio-emosional.

h.      Pendekatan Kerja Kelompok : Pendekatan kerja kelompok dengan model ini membutuhkan kemampuan guru dalam menciptakan momentum yang mendorong kelompok-kelompok di dalam kelas menjadi kelompok yang produktif.

i.        Pendekatan Elektis atau Pluralistis : Pendekatan elektis biasanya menekankan pada potensi, kreativitas, dan inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan berdasarkan situasi yang dihadapinya. Pendekatan elektis atau disebut juga pendekatan pluralistis, yaitu pengelolaan kelas dengan menggunakan berbagai pendekatan yang memiliki potensi menciptakan proses belajarmengajar agar dapat berjalan secara efektif dan efisien.

5.      Konsep Modern Manajemen kelas

Manajemen kelas dalam konsep modern dipandang sebagai proses mengorganisasikan segala sumber daya kelas bagi terciptanya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Dalam mewujudkan manajemen kelas yang efektif maka perlu melakukan perencanaan yang matang mengenai strategi pembelajaran, fasilitas yang diperlukan serta sistem pengaturannya, budaya kelas, dan sistem evaluasi untuk mengukur keberhasilan manajemen kelas. Terkait dengan pendidik dalam hubungannya dengan pelaksanaan manajemen kelas, maka pendidik harus menciptakan suasana kelas yang kondusif, menjadi manajer kelas yang efektif, menjadi leader kelas, menjadi pembimbing peserta didik, mengendalikan disiplin kelas, menata lingkungan fisik kelas. Pendidik bertugas untuk menciptakan, memperbaiki, dan memilhara situasi kelas yang cerdas. Situasi kelas yang cerdas itulah yang mendukung pendidik untuk mengukur, mengembangkan, dan memelihara stabilitas kemampuan, bakat, minat dan energi yang dimilikinya dalam rangka menjalankan tugas-tugas pendidikan dan pembelajaran.

 

 

 

 

Sabtu, 17 April 2021

Laporan Bacaan Tentang Manajemen Sekolah

 

Nama              : Milda

Nim                 : 11901035

Kelas               : PAI 4E        

Mata Kuliah  : Magang 1

 

Laporan Bacaan Tentang Manajemen Sekolah

Setelah saya membaca sebuah jurnal yang berkaitan dengan administrasi sekolah salah satunya yaitu tentang manajemen sekolah, jurnal tersebut berjudul “Manajemen Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Pada Sdn Dayah Guci Kabupaten Pidie oleh Muhammad Nur, Cut Zahri Harun, dan Sakdiah Ibrahim. Volume 4, No. 1, Februari 2016”.(https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://media.neliti.com/media/publications/93694IDmanajemensekolahdalammeningkatkanmut.pdf&ved=2ahUKEwjWu8Q1IbwAhXBe30KHaWGBn8QFjAAegQIBBAC&usg=AOvVaw09DC6UOCtZIWyzdecFReTo).

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan bangsa. Mengapa demikian ? karena tujuan dari pendidikan ialah sebagai upaya mencerdaskana kehidupan bangsa, mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan. Nah, di dalam sebuah pendidikan tersebut tentunya memiliki komponen-komponen seperti administrasi, manajemen, sistem pendidikan dan lainnya.

Pada laporan bacaan kali ini saya akan membahas tentang manajemen sekolah, yang merupakan bagian yang penting dan berpengaruh terhadap berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. Untuk poin pertama membahas tentang konsep manajemen sekolah. Kedua, tentang fungsi manajemen sekolah. Ketiga, gerapan manajemen sekolah. Keempat, peranan kepala sekolah dalam manajemen, dan terakhir kelima membahas tentang mutu pendidikan.

1.      Konsep Manajemen Sekolah

                Manajemen merupakan serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, mengembangkan segala upaya di dalam mengatur dan mendayagunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, untuk mencapai tujuan organisasi, secara efisien dan efektif (Wahjosumidjo, 2000: 117). Menurut Scanlan dan Key, manajemen merupakan proses pengoordinasian dan pengintegrasian semua sumber, baik manusia, fasilitas, maupun sumber daya teknikal lain untuk mencapai tujuan khusus yang ditetapkan (Danim, 2007: 32). Manajemen dalam arti luas adalah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Sementara itu, manajemen sekolah adalah proses dan instansi yang memimpin dan membimbing penyelenggaraan pekerjaan sekolah sebagai suatu organisasi dalam mewujudkan tujuan pendidikan dan tujuan sekolah (Sagala, 2007:55).  Sedangkan, manajemen dalam arti sempit adalah manajemen  sekolah atau madrasah meliputi : perencanaan program sekolah/madrasah, pelaksanaan program sekolah atau madrasah,  kepemimpinan kepala sekolah atau madrasah, pengawas atau evaluasi dan sistem informasi sekolah atau madrasah. Jadi untuk menentukan keberhasilan suatu pendidikan juga dilandasi dengan  manajemen sekolah yang baik dan sistematis sesuai dengan yang sudah direncanakan sejak awal.  Manajemen sekolah bukan merupakan terminologi baru dalam dunia akademik kependidikan. Sebagai substansi tugas, manajemen sekolah telah ada sejak lembaga persekolahan ada. Substansi prosesnya yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan telah dikembangkan sejalan dengan berjalannya substansi tugas (manajemen akademik, manajemen keuangan, manajemen ketatalaksanaan sekolah, manajemen kemuridan, manajemen bangunan dan perlengkapan sekolah, manajemen pelayanan khusus, manajemen kehumasan, manajemen perpustakaan) meskipun belum bersistem (Danim, 2007: 33)

                Oleh karena itu sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus mampu mengembangkan seluruh kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh peserta didik dan kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (tingkah laku). Dapat disimpulkan bahwa manajemen sekolah merupakan proses mengelola sekolah melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sekolah agar mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Selain itu, kepala sekolah sebagai  manajer sekolah menempati posisi yang telah ditentukan di dalam organisasi sekolah. Salah satu perioritas kepala sekolah dalam manajemen sekolah ialah manajemen pembelajaran.

2.      Fungsi Manajemen Sekolah

                Fungsi manajemen sekolah adalah mengoptimalkan kemampuan menyusun rencana sekolah dan rencana anggaran. Sekolah dikelola berdasarkan rencana sekolah dan rencana anggaran. Masyarakat juga didorong untuk berpartisipasi mengelola sekolah. Berikut diuraikan fungsi-fungsi pengelolaan sekolah yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengoordinasian, pengarahan, dan pengawasan dalam konteks kegiatan satuan pendidikan.

                Secara umum ada empat fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing) dan fungsi pengendalian (controlling). Untuk fungsi pengorganisasian terdapat pula fungsi staffing (pembentukan staf). Dalam proses manajemen terlibat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang pimpinan, menurut Yamin dan Maisah (2009:2), yaitu “perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).

a.       Fungsi Perencanaan

          Perencanaan sekolah adalah proses menentukan sasaran alat, tuntutan-tuntutan, taksiran, pos-pos tujuan, pedoman, dan kesepakatan yang menghasilkan program-program sekolah yang terus berkembang (Sagala, 2007: 58).

b.      Fungsi Pengorganisasian

          Pengorganisasian sekolah merupakan kemampuan kepala sekolah bersama guru, tenaga kependidikan, dan personel lainnya di sekolah dalam melakukan semua kegiatan manajerial untuk mewujudkan hasil yang direncanakan dengan menentukan hasil yang direncanakan dengan menentukan sasaran, menentukan struktur tugas, wewenang dan tanggung jawab (Sagala, 2007: 60). Fattah (2006: 71) mengartikan pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi.

c.       Fungsi Penggerakan (Actuating)

          Berdasarkan seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen. Fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi. Menggerakkan (Actuating) menurut Terry berarti merangsang anggota-anggota kelompok melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dan kemauan yang baik. Menggerakkan dalam organisasi sekolah adalah merangsang guru dan personel sekolah lainnya melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dan kemauan yang baik untuk mencapai tujuan dengan penuh semangat (Sagala, 2007: 60).

d.      Fungsi Pengkoordinasian

          Pengkoordinasian dalam organisasi sekolah adalah mempersatukan rangkaian aktifitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah dengan menghubungkan, manyatupadukan, dan menyelaraskan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan personel lainnya sehingga berlangsung secara tertib ke arah tercapainya maksud yang telah ditetapkan (Sagala, 2007: 62). Usaha pengkoordinasian dapat dilakukan malalui berbagai cara, antara lain dengan melaksanakan penjelasan singkat, mengadakan rapat kerja, memberikan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis serta memberikan balikan tentang hasil kegiatan (Suryosubroto, 2004: 24)

3.      Garapan Manajemen Sekolah

                Manajemen pendidikan adalah bagian dari proses manajemen sekolah, karena merujuk pada penataan sumber daya manusia, kurikulum, fasilitas, sumber belajar dan dana serta upaya mendapai tujuan lembaga sekolah secara dinamis. Manajemen pendidikan merupakan suatu sistem pengelolaan dan penataan sumber daya pendidikan, seperti tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, kurikulum, danan (keuangan), sarana dan prasarana pendidikan, tata laksana dan lingkungan pendidikan. Soepardi (Mulyasa, 2011:11) mengungkapkan bahwa “Garapan manajemen pendidikan meliputi bidang; organisasi kurikulum, perlengkapan pendidikan, media pendidikan, personil pendidikan, hubungan kemanusiaan, dan dana finansial atau keuangan”.

4.      Peranan Kepala Sekolah dalam Manajemen

                Kepala sekolah merupakan jabatan karir yang diperoleh seseoarng setelah sekian lama menjabat sebagai guru. Seseorang diangkat dan dipercaya menduduki jabatan kepala sekolah harus memenuhi kriteriakriteria yang disyaratkan untuk jabatan dimaksud. Wahjosumidjo (2011:83) menjelaskan “secara sederhana kepala sekoah dapat didefinisikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin suatu lembaga atau sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran”.

                 Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah. Sesuai dengan ciri-ciri sekolah sebagai organisasi yang bersifat kompleks dan unik, peran kepala sekolah seharusnya dilihat dari berbagai sudut pandang. Pada umumnya kepala sekolah memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin di bidang pengajaran, pengembangan kurikulum, administrasi kesiswaan dan personalia staf, hubungan masyarakat, administrasi school plant, dan perlengkapan serta organisasi sekolah. Kepala sekolah berkewajiban menciptakan hubungan yang sebaik-baiknya dengan para guru, staf, dan siswa, sebab esensi kepemimpinan adalah kepengikutan. Ada tiga macam peranan pemimpin dilihat dari otoritas dan status formal seorang pemimpin. Dalam melaksanakan fungsinya, kinerja seorang kepala sekolah sering dirumuskan sebagai EMASLIM. Singkatan dari Educator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Innovator, dan Motivator.

                Maka dari itu kepala sekolah sangat berperan penting dan berpengaruh dalam berlangsungnya manajemen sekolah, karena kepala sekolah yang mempimpin apakah manajemen sekolah berjalan dengan maksimal atau tidak.

5.      Mutu Pendidikan

                Mutu berkaitan dengan baik buruknya suatu benda, kadar atau derajat. Mutu pendidikan yang diinginkan tidak terjadi begitu saja, tetapi mutu perlu direncanakan. Perencanaan yang matang merupakan salah satu bagian dalam upaya meningkatkan mutu. Depdiknas (Mulyasa, 2013:157), Secara umum “mutu diartikan sebagai gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam membuaskan kebutuhan yang diharapkan atau tersirat. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses dan output pendidikan”.

                Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Input sumber daya meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah, guru termasuk guru BP, karyawan, siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang, bahan dan sebagainya). Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. Output pendidikan adalah merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/ perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efesiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moral kerjanya.

                Proses pendidikan yang bermutu apabila seluruh komponen pendidikan terlibat dalam proses pendidikan itu sendiri. Kamisa (Karwati dan Priansa, 2013:15) menyebutkan “mutu yang dimaksud dalam perspektif pendidikan adalah mutu dalam konsep relatif, terutama berhubungan dengan kepuasan pelanggan. Pelanggan pendidikan ada dua, yaitu pelanggan internal dan eksternal”. Pendidikan bermutu apabila pelanggan internal (kepala sekolah, guru dan karyawan sekolah) berkembang, baik fisik maupun psikis, sedangkan pelanggan eksternal, yaitu: (1) eksternal primer (peserta didik), (2) eksternal skunder (orang tua, pemimpin pemerintah dan perusahaan), dan (3) eksternal tersier (pasar kerja dan masyarakat luas).  Nah maka dari itu untuk menciptakan sekolah yang bermutu peran semua anggota sekolah baik itu guru, peserta didik, orangtua pendidik dan komite sekolah lainnya harus saling bekerja sama untuk meningkatkan mutu pendidikan yang baik agar proses belajar yang sedang berlangsung akan berjalan dengan lancar karena adanya kesadaran dari berbagai pihak yang mendukung untuk peningkatan mutu pendidikan yang lebih baik lagi.

 

 

 

 

Sabtu, 10 April 2021

Laporan Bacaan Tentang Kultur Sekolah

 

Nama              : Milda

Nim                 : 11901035

Kelas               : PAI 4E      

Mata Kuliah  : Magang 1

 

Laporan Bacaan Tentang Kultur Sekolah

Berdasarkan dari bacaan yang saya baca pada sebuah Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No. 1, 2013 Kultur Sekolah oleh Ariefa Efianingrum atau sumber linknya (https://jurnal.ugm.ac.id/jps/article/view/23404/pdf). Pada jurnal ini membahas tentang Pengertian Kultur Sekolah, Implikasi Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah, Aneka dan Praktik Pengembangan Kultur Sekolah.

Pengertian Kultur Sekolah dapat saya simpulkan yaitu Budaya sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif, dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.

Dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam 13 bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah.

Jadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah. Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif.

Menurut para ahli yaitu Menurut Peterson (2002), budaya sekolah dapat mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa. Sedangkan menurut Willard Waller (Deal & Peterson, 2011), sekolah memiliki budaya yang pasti tentang diri mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, tentang sekolah mereka, tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusidiskusi tentang upaya perbaikan sekolah. Sekolah berperan dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum.

Selain itu dalam kultur atau kebudayaan sekolah memiliki unsur penting mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:

1.      Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.

2.      Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.

3.      Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

4.      Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.

Kemudian implikasi kultur sekolah dalam perbaikan sekolah juga menjadi peranan penting dalam menunjukkan betapa berpengaruhnya kultur sekolah terhadap berjalannya fungsi sekolah. Dalam kultur sekolah terdapat aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah, yaitu sebagai berikut :

a.       Visi dan Nilai (Vision and Values)

Visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Sedangkan nilai terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik merupakan nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi, misalnya: nilai patriotisme. Sedangkan nilai instrumental merupakan nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk perbaikan sekolah.

b.      Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)

Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Dalam upacara dan perayaan yang berlangsung biasanya perangkat sekolah baik itu mulai dari siswa-siswi, para guru, kepala sekolah dan anggota komite sekolah saling berinteraksi untuk menjalin kerjasama yang baik demi kemajuan sekolah. Jadi dalam kegiatan atau acara ini dapat meningkatkanvisi dan  semangat (spirit) sekolah untuk perbaikan sekolah.

c.       Sejarah dan Cerita (History and Stories)

Sejarah merupakan suatu hal yang sangat melekat akan budaya sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya sejarah dapat meningkatkan perbaikan sekolah.

d.      Arsitektur dan Artefak (Architecture and Artifacts)

Sekolah pasti mempunyai simbol yang sangat khas yaitu seperti seragam sekolah, motto, logo, arsitektur, lagu (mars/hymne), kata-kata motivasi dan tindakan yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Hal ini yang menjadi ciri-ciri yang menonjol dan merupakan aspek-aspek dari bagian kultur sekolah. Dengan adanya arsitektur atau simbol dari sekolah inilah yang membuat sekolah dikenal dengan cara yang berbeda.

Selain pengertian kultur sekolah dan implikasi kultur sekolah dalam perbaikan sekolah tentunya ada tindakan atau praktik pengembangan kultur sekolah untuk kemajuan sekolah tersebut. Pengembangan kutur sekolah dapat dilakukan melalui berbagai macam tindakan yaitu sebagai berikut :

1.      Melalui Prestasi Akademik

Tak asing lagi bagi kita apalagi sebagai calon pendidik bahwa prestasi akademik merupakan suatu peningkatan perkembangan belajar peserta didik dalam proses pembelajaran yang sangat dihargai oleh sekolah. Prestasi akademik yang didapatkan oleh peserta didik merupakan suatu hal yang sangat membanggakan bagi pendidik, karena telah berhasil mendidik siswa-siswinya berkembang dengan signifikan dengan menoreh sebuah prestasi sekolah baik itu prestasi dalam mata pelajaran, juara kelas maupun juara tingkat sekolah dan menjadi suatu kebanggaan bagi kedua orang tua. Prestasi akademik sangat menunjang pengembangan kultur sekolah, karena tujuan dari sekolah ialah mencerdaskan anak bangsa tanpa diskriminasi.

2.      Melalui Prestasi Non-Akademik

Selain melalui prestasi akademik, dalam kultur sekolah prestasi yang menunjang siswa-siswinya untuk berkembang ialah melalu prestasi non-akademik yang dapat diasah secara maksimal melalui bakat dan minat peserta didik. Prestasi non-akademik dapat dikembangkan melalui seni, olahraga, organisasi-organisasi sekolah dan lainnya yang merupakan bagian dari kultur sekolah. Kegiatan dalam mengembangkan bakat dan minat ini sering disebut dengan kegiatan ekstrakurikuler.

Dalam kegiatan ekstrakurikuer ini peserta didik diberikan ruang untuk mengembangkan potensi atau kemampuan setiap peserta didik sesuai minatnya tanpa ada unsur paksaan. Sehingga dengan begitu peserta didik merasa nyaman dan maksimal dalam mengasah potensi mereka sehingga dapat bersaing dengan siswa-siswi yang berasal dari sekolah lain untuk menunjukkan kemampuan atau potensi mereka dengan bersaing secara sehat sehingga mendapat predikat siswa-siswi berprestasi non-akademik.

Prestasi non-akademik selain memberikan ruang atau kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang dimilikinya juga sebagai bentuk dalam kemajuan sekolah.

3.      Melalui Karakter

Karakter peserta didik merupakan suatu bagian terpenting yang harus diperhatikan oleh sekolah terutama para pendidik. Karakter menjadi bagian terpenting dalam menentukan keberhasilan peserta didik kedepannya. Karakter mencakup sikap dan moral peserta didik. Apabila peserta didik memiliki karakter yang bagus maka karakter tersebut akan menjadi kebiasaan peserta didik ketika berinteraksi atau bergaul dengan masyarakat ataupun lingkungan sekitarnya. Begitu pula sebaliknya, jika peserta didik memiliki karakter yang buruk disekolah, maka karater tersebut akan menjadi kebiasaan yang buruk pula ketika peserta didik sudah berada dilingkungan sekitarnya.

Maka dari itu karakter menjadi perhatian yang cukup besar bagi sekolah dalam pengembangan kultur sekolah agar setiap peserta didik memiliki karakter yang bagus, baik itu dari sikap dan moralnya agar dapat mencontohkan kepada lingkungan sekitarnya bahwa mereka merupakan orang yang berpendidikan sehingga terhindar dari hal-hal yang dapat menjerumuskannya kedalam hal yang buruk.

4.      Melalui Kelestarian Lingkungan Hidup

Dengan budaya sekolah seperti kegiatan meningkatkan kelestarian hidup ini, peserta didik diajarkan bagaimana menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan baik dan benar. Sehingga peserta didik memiliki kesadaran betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan menjelaskan bahaya jika tidak menjaga kelestarian lingkungan hidup yang dapat merugikan semua makhluk hidup. Dengan memberikan contoh jika membuang sampah sembarangan, maka akibat dari membuang sampah secara sembarangan dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti diare, demam berdarah dan lainnya. Karena tumpukan sampah menjadi sarang bagi lalat dan nyamuk sehingga dapat menimbulkan berabagai penyakit.

Selain terhindar dari berbagai penyakit jika menjaga kelestarian lingkungan hidup, sekolah juga dapat penghargaan jika sekolah tersebut bersih, asri dan nyaman dengan predikat sekolah adiwiyata. yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan. Untuk mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.

 

 

Laporan Bacaan Tentang Kultur Sekolah, Aktivitas Siswa dan Pembelajaran.

  Nama                           : Milda Nim                              : 11901035 Kelas                            : PAI 4E          ...